Nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia

IMG_20151201_122825

Nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia – “Jadi rencananya pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di Kota Yogyakarta dilakukan pertengahan tahun 2016,” jelas Muhammad Ali Mahrus, fasilitator pertemuan Eliminate Dengue Project Yogyakarta (EDP-Yogya) dengan anggota PKK Kelurahan Pakuncen, 17 September 2015.

“Kenapa pelepasannya nggak dipercepat saja mas, karena Kelurahan Pakuncen termasuk wilayah endemik demam berdarah,” tutur Arum Sriyati, Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Pakuncen.

Pada kesempatan berbeda, Lurah Pakuncen, Joko Saptono memaparkan bahwa kejadian DBD di Kota Yogyakarta sampai bulan Oktober sudah mencapai 809 kasus.

Di kecamatan Wirobrajan sendiri terdapat 42 kasus, 11 di antaranya berasal dari Kelurahan Pakuncen. “Kelurahan Pakuncen berbatasan dengan Kabupaten Bantul dan Sleman. Selain itu terdapat pemakaman yang cukup luas di wilayah ini,” terangnya.

Hasil survei penelitian penanggulangan DBD yang dilakukan Yayasan Tahija bersama kader kesehatan tahun 2008-2010 lalu menyebutkan bahwa pemakaman adalah salah satu tempat yang digunakan oleh nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak.

Sri Supadmi, Ketua PKK RT 04 mengatakan kasus DBD selalu terjadi setiap tahunnya meskipun warga aktif melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). “Oleh karena itu tujuan penelitian EDP-Yogya adalah mengurangi penularan virus dengue dengan menggunakan bakteri alami Wolbachia yang terbukti mampu menekan perkembangan vitus dengue pada nyamuk Aedes aegypti,” terang Muhammad Ali.

Hasil penelitian di Nogotirto dan Kronggahan (Kabupaten Sleman) menunjukan tidak adanya penularan lokal meskipun ada kasus DBD di wilayah tersebut. “Kami mendukung penelitian ini dan semoga Kelurahan Pakuncen terpilih menjadi wilayah pelepasan nyamuk Aedes aegypti yang ber-Wolbachia,” harap Joko Saptono.

About

View all posts by